Anak Berkebutuhan Khusus Lambat Belajar Forex


Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, istilah anak luar biasa yang kini disebut sebagai anak berkebutuhan khusus masih disalah tafsirkan, yaitu anak luar biasa selalu diartikan sebagai anak yang berkemampuan unggul atau berprestasi luar biasa. Rindu pengertian anak luar biasa juga untuk pengertian yaitu anak yang mengalami kelainan atau ketunaan, baik pada satu macam kelainan atau lebih dari satu kelainan jenis kelainan. Anak yang berkebutuhan khusus secara umum dikenal masyarakat umum sebagai anak luar biasa. Diharapkan dengan menerapkan Kasus Anak Berkebutuhan Khusus kita bisa mengetahui pengertian anak luar biasa, anak anak luar biasa, contoh-contohnya, progam pendidikan, kurikulum dan tindakan. A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Anak yang berkebutuhan khusus secara umum dikenal masyarakat umum sebagai anak luar biasa. Maka terlebih dahulu tau tentang hakekat anak luar biasa. Dalam percakapan sehari-hari orang yang dijuluki sebagai 8220orang luar biasa8221 adalah mereka yang memiliki kelebihan yang luar biasa, misalnya orang yang terkenal karena memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa, memiliki kreativitas yang tinggi dalam melahirkan suatu temuan-sesuatu yang luar biasa di bidang IPTEK, religius , Dan bidang-bidang kehidupan lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat, dan orang-orang yang mencapai prestasi yang mnghebohkan dan spektakuler, misalnya orang yang berhasil menaklukkan gunung tertinggi didunia, dan sebagainya. Dalam dunia pendidikan, kata luar biasa juga merupakan julukan atau sebutan bagi mereka yang memiliki kekurangan atau mengatasi berbagai kelainan dan penyimpangan yang tidak orang biasa pada umumnya. Kelainan atau kekurangan yang dimiliki oleh mereka ynga disebut luar biasa bisa menjadi kelainan dari segi fisik, psikis, sosial dan moral. Kelainan dari segi fisik bisa menjadi kecacatan fisik, misalnya orang tidak memiliki kaki sebelah kiri, belakang buta, dan sejenisnya. Kelainan dari segi psikis, atau aspek kejiwaan (psikologis, misalnya orang yang menderita keterbelakangan mental akibat intelegensi yang dimiliki dibawah normal) (Abdul Hadis, 2006. 4-5). Anak berkebutuhan khusus (dahulu disebut sebagai anak luar biasa) merupakan anak yang membutuhkan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna. (Hallahan dan Kauffman, 1986 dalam Abdul Hadis, 2006. 5-6). Anak luar biasa disebut anak yang berkebutuhan khusus, karena dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup, anak ini membutuhkan bantuan, layanan pendidikan, layang sosial, layanan bimbingan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang khusus. B. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Dalam dunia pendidikan luar biasa dewasa ini, anak berkebutuhan khusus diklasifikasikan atas beberapa kelompok sesuai dengan jenis kelainan anak, hal ini mencakup kelompok anak yang sedang berkembang keterbelakangan mental, ketidak mampuan belajar, gangguan emosional, kelainan fisik, kerusakan dan gangguan Pendengaran, kerusakan atau gangguan penglihatan, gangguan bahasa dan wicara, dan kelompok anak yang berbakat (Abdul Hadis, 2006. 4). Anak Berkebutuhan Khusus dapat diketahui dengan cara bangun gejala. Gejala-gejala itu antara lain yang dikemukakan oleh Alja de Bruin de Boer seorang Orthopedagog anak berbakat Belanda dalam suatu kongres di Belanda tentang anak gifted tahun 2003, ia memberikan beberapa patokan sebagai pegangan untuk melihat gejala-gejala anak usia 4-6 tahun yang mengalami loncatan Perkembangan, kita bisa melihat dari hal-hal berikut ini: 1. Motoriknya berkembang dengan baik. Umumnya pada usia yang sangat muda, anak ini memiliki perkembangan motorik yang lebih baik dari anak seusianya. Mereka duduk dan berjalan lebih dahulu dari teman sekolahnya, dan masih sangat muda sudah bisa bermain dengan material yang kecil-kecil. 2. Penggunaan bahasa yang amat baik. Sebagian anak berbakat memppunyai perkembangan bicara yang sangat cepat, tapi sebagiannya lagi tertunda bicara, namun lambat laun akan segera menyusul ketertinggalannya dan menggunakan bahasa yang sulit seperti 8220 mesin cuci baju8221. 3. Sangat mandiri. Para orang tua melaporakan anak-anak ini sejak masih kecil sekali sudah mau melakukan segala hal sendiri. 4. Memiliki energi yang luar biasa dan sangat banyak gerak. Anak-anak ini bagai anak yang tak pernah lelah. Sering mereka sangat sedikit membutuhkan waktu atau jam tidur. Dan selalu ingin memolisian berbagai hal. 5. Dalam berbicara memiliki perhatian masalah spesifik: cerita-cerita para orang tua tentang anak diusia 2 - 2,5 tahun yang sangat sering adalah cerita tentang merek-merek dan tipe mobil. 6. Sangat cepat akan pemahaman dan logika analisis: anak-anak yang memiliki loncatan perkembangan pada usia yang sangat dini memiliki memori yang sangat baik, dan memiliki kemampuan yang berhubungan dengan kejadian lainnya, dimana anak-anak lain masih belum mampu. 7. Mempunyai kreatifitas dalam bermain: anak-anak yang mengalami loncatan perkembangan ini, sejak masih kecil sudah bisa bisa melakukan permainan fantasi. 8. Penting bagi orang tua untuk menyadari setiap anak memiliki pribadi yang unik, setiap anak memiliki bakat dan minat yang berbeda-beda. Tanggung jawab orang tua adalah mengenal potensi setiap anak dan menciptakan suatu iklim atau suasana di dalam keluarga yang memupuk dan mendorong perwujudan potensi kreatif ini (Utami Munandar, 1998, hlm 5). 9. Lebih cepat berlajar membaca dan berhitung: lewat kemampuan pengenalan, melalui banyak pertanyaan yang di ajukannya, juga daya ingat yang sangat baik, anak-anak dengan loncatan. Misalnya: belajar huruf-huruf lewat permainan, huruf M ada di Mc Donald, Mora, atau Coklat Mars. (Julia Maria van Tiel, 2007, hlm 41) C. Contoh anak berkebutuhan khusus 1. Lemah mental, dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: ringan dengan IQ 50-70, sedang dengan IQ 35-49, dan berat dengan IQ 20-34 . 2. Kretinisme, yaitu keadaan jasmani dengan tanda badannya cebol, kulit muka dan badan tebal berlipat-lipat, muka menggembung, dan tampak bodoh. Lidahnya menjulur keluar dan dahinya penuh dengan rambut. Anak kretin ini biasanya mulai berjalan dan berbicara lebih lambat dari anak normal, umur mentalnya hanya mencapai umur mental 3-4 tahun, sehingga bisa dikategorikan lemah mental berat. (Juntika Nurichsan dan Mubiar Agustin, 201, hlm: 49) 3. Orang tua yang bertengkar, anak-anak yang terlantar anak-anaklah yang menjadi pusat perhatian. Bukan sebaliknya, malah di abaikan. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya anak butuh dan bimbingan utama dari orang tua agar terbentuk kepribadian yang utuh dan kuat. Dalam mengarungi perjalanan hidup mencapai jenjang kedewasaan, anak membutuhkan teladan dari orang tua. Bagi anak, orang tua adalah pendidik utama, guru yang sejati. Jangan mengharapakan apa-apa dari anak, kalau orang tua tidak mau turun tangan sendiri sebagai pendidik utama. (M. Imran Pohan, 1986, hlm: 173). 4. ADHD yaitu gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. Jika hal ini terjadi pada seorang anak dapat menyebabkan berbagai kesulitan belajar, kesulitan berperilaku, kesulitan sosial, dan kesulitan-kesulitan lain yang kait mengait. D. Program Pendidikan Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Kata Program berasal dari Bahasa Inggris, yaitu Programe yang terdiri dari arti rencana atau rencana kegiatan. Dengan program kata kunci yang dimaksud rencana, maka program untuk anak berkebutuhan khusus dalam hal ini diartikan sebagai rencana kegiatan pendidikan yang akan diberikan kepada anak yang berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah khusus dan sekolah-sekolah reguler yang menerapkan sistem pendidikan inklusi. Untuk Anak yang berkebutuhan khusus yang mencakup berbagai jenis kelainan, yaitu anak dengan ganggan penglihatan, bahasa dan wicara, emosional, anak dengan ketidakmampuan belajar, ketidakmampuan fisik, dan anak yang membutuhkan program pendidikan yang sesuai dengan status mereka sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Program pendidikan yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan program pendidikan individu yang biasa disingkat 8220PPI8221 Program Pendidikan Individu (PPI) untuk anak yang berkebutuhan khusus dikembangkan dengan melalui berbagai proses atau tahap pengembangan dan pelaksanaan program pengembangan pendidikan individu, yaitu tahap awal: penjaringan Dan identifikasi peserta didik yang berkelainan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, melakukan rujukan ke tim pendidikan khusus, melakukan pertemuan tim, menyusun program pendidikan individu (PPI), melaksanakan program pendidikan individu (Depdiknas, 2003). Kesemua tahap-tahap yang harus dilakukan secara seksama oleh pihak pengembang PPI, yaitu kepala sekolah, pengawas, guru pendidikan khusus, guru kunjung, individu yang suka, tenaga tua sesuai kebutuhan, orang tua anak, dan ank itu sendiri. Program Tim Perwalian Khusus (PPI), halangan yang setiap peserta didik yang diketahui menunjukkan tanda-tanda akan diarahkan pada Tim Pendidikan Khusus. Kegiatan rujukan dapat dilakukan oleh orang tua, guru kelas, administrator, tokoh masyarakat, dan tenaga profesi yang lain (Direktorat PLB Ditjendikdasnen Depdiknas, 2003 dalam buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus hlm 30-31). Masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik jadi perlu dirujuk karena peserta didik tidak mampu menyelesaikan tugas pokok, kesulitan bergaul dengan teman, kemampuan membaca yang rendah, tidak mampu memusatkan perhatian, prestasi belajar yang jauh di bawah teman-teman kelasnya, dan karena Anak untuk gangguan mobilitas karena kondisi fisik, dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut harus bisa diatasi dini oleh pihak guru, orang tua dan anggota keluarga lainnya seisi rumah, pihak petugas bimbingan konseling di sekolah, dan pihak terkait lainnya. E. Kurikulum Pendidikan Untuk Anak Yang Berkebutuhan Khusus Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pada pasal 1 butir 19 adalah Kurikulum adalah: 1. Sebuah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan 2. Bahan pelajran, Dan 3. Cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program pembelajaran untuk tujuan. Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, pada Kurikulum 1994 diwujudkan dalam buku Landasan. Program, dan Pengembangan Kurikulum 1994 diwujudkan dalam buku Garis Besar Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program pembelajaran untuk mencapai program pendidikan tertentu. Pada Kurikulum 1994 diwujudkan dalam buku-buku Pedoman Pelaksanaan Kurikulum. (Abdul Hadis, 2006: 33) Saya setuju dengan Program Kurikulum Pendidikan Untuk Anak Yang Berkebutuhan Khusus, karena setiap satuan pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didiknya harus pada berpegangan pada kurikulum terbaru yang berlaku, seperti kurikulum di tahun 2004, kurikulum tersebut adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pendidikan khusus untuk anak yang berkebutuhan khusus dewasa ini juga wajib untuk kurikulum yang berbasis kompetensi yang disebut sebagai 8220 Kurikulum 20048221. Begitupun juga sampai tahun sekarang yang menggunakan kurikulum KTSP. F. Cara terjemah anak berkebutuhan khusus 1. Bagi orang tua, mereka akan berusaha setengah mati untuk memahami kondisi anak dan memikirkan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orang tua harus bisa mempercayai pengajar dan yakin mereka, sebagai orang tua, akan diijinkan untuk terlibat dan kemajuan anak selama prasekolah. 2. Bagi para pengajar, langkah-langkah yang akan mereka lakukan adalah. Sebuah. Menjalin kerjasama dengan orang tua, kerjasama antara pengajar dengan orang tua sangat penting untuk mengetahui kebutuhan pembelajaran anak dan jaminan adannya respon cepat pada setiap kesulitan. Oramg tua dan keluarga merupakan tempat yang paling nyaman untuk anak, dan pengajar harus mendukung hubungan penting ini dengan cara saling berbagi informasi dan saling belajar. B. Menjalin kerja sama dengan pihak lain, pengajar harus bekerja sama dengan pengajar dari instansi lain misalnya dinas kesehatan masyarakat lokal, atau tempat anak yang dilindungi oleh Pemerintah Lokal, untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan serta menggunakan pengetahuan dan saran mereka guna memeberikan sosial kepada anak melalui kesempatan dan Lingkungan belajar terbaik untuk anak. C. Rasa kesetiaan, tersedianya, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah, percayalah (Chris Dukes dan Maggie Smith, 2009: 3-6). Salah satu kegiatan yang memiliki peran penting dalam kegiatan pendidikan anak usia dini adalah kegiatan bimbingan. Kegiatan bimbingan bagi anak dapat dijadikan salah satu cara membantu guru dalam proses pemecahan masalah. Terkait denagan masalah anak, berikut beberapa bentuk bimbingan yang bisa dilakukan, baik oleh guru maupun orang tua dalam membantu mengatasi masalah anak: tidak semua tingkah laku yang bemasalah digolongkan gangguan. Oleh karena itu, Perlu menambahkan pengetahuan tenytang gangguan terhadap perkembangan dan jenis gangguan anak. Untuk bisa terjemah anak yang mengalami gangguan, ada gun keluarga mengikuti kelompok pendukung dan pelatihan keterampilan parenting. Tujuannya agar bisa lebih memhami sip dan perilaku anak, dan apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk menghadapi anak yang memilik gangguan psikologis. 4. Membangkitkan kepercayaan diri Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, menggunakan tehnik-tehnik pengelolaan, seperti menggunakan penguasa positif. Misal memberikan pujian kepada anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu yang benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. 5. Mengenali arah minatnya Jika dia terus berjalan, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifannya. Jangan dilarang semuanya karena membuat anak menjadi frustasi. Yang penting adalah. 6. Meminimalisir stimulasi yang dapat mengacaukan pikiran dan konsentrasi. Anak diupayakan tenang terkendali, gangguan dari luar minimal menggunakan media yang menarik sesuai dengan modalitas anak (visual, auditori, kinestik), praktik langsung, menyenangkan, variatif, sesuai dengan minat anak, kelebihan strategi meningkatkan memori, mnemoik, kata kunci, Dan wawasan. 7. Merancang lingkungan rumah kondusif Menjauhkan benda berbahayatajam, lingkungan fisik nyaman, kemudahan anak yang normal untuk menjadi panutan, tahan kontak mata, berikan pekerjaaan yang menantang, pastikan ada sisi menarik pengajaran, menyederhanakan, memperjelas, menjelaskan tujuantarget dengan jelas, memberi Contoh, monitoring perlu dilakukan untuk memberi masukan pada pekerjaan lebih lanjut. 1. Orang luar biasa mereka yang memiliki kelebihan yang luar biasa, misalnya orang yang terkenal karena memiliki kemampuan intelektual yang luarbiasa, memiliki kreativitas yang tinggi. 2. Dalam dunia pendidikan luar biasa dewasa ini, anak berkebutuhan khusus diklasifikasikan atas beberapa kelompok sesuai dengan jenis kelainan anak, hal ini mencakup kelompok anak yang sedang berkembang keterbelakangan mental, ketidak mampuan belajar, gangguan emosional, kelainan fisik, kerusakan atau gangguan pendengaran, kerusakan atau gangguan Gangguan penglihatan, gangguan bahasa dan wicara, dan kelompok anak yang berbakat (Abdul Hadis, 2006. 4). 3. Kurikulum Pendidikan Untuk Anak Yang Berkebutuhan Khusus dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pada pasal 1 butir 19 adalah Kurikulum adalah: a. Sebuah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan b. Bahan pelajran, dan c. Cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 4. Cara kerja anak berkebutuhan khusus: Bagi orang tua, mereka akan berusaha setengah mati untuk memahami kondisi anak dan memikirkan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orang tua harus bisa mempercayai pengajar dan yakin mereka, sebagai orang tua, akan diijinkan untuk terlibat dan kemajuan anak selama prasekolah. Kita sebagai calon pendidik harus tahu bagaimana cara mendidik anak sesuai dengan minat bakat, karakter dan tentunya anak yang berkebutuhan khusus. Agar kita lebih bijak dalam memberikan pelayanan khusus dalam jangka kasus anak yang berkebutuhan khusus. 8220Anak-anak tidak bahagia karena tidak ada sesuatu yang tidak diperhatikan. Untuk itu orang tua diciptakan.8221 (Ogden Nash dalam S. Chalke.2009: 107) Hadis, Abdul. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Alfabeta. 2006. Smith, Chris Dukus. Cara Menangani Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Indeks. 2009. Pohan, M. Imran. Masalah Anak dan Anak Bermasalah. Jakarta: CV Intermedia. 1986. Baihaqi amp Sugiarmin. Memahamni dan tips Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama. 2006. Tiel, Julia Maria. Anakku Terlambta Bicara. Jakarta: Prenada. 2009 Sujanto, Agus, Lubis Halem, amp Hadi, Taufik. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara. 1980 Nurihsan, Juntika. Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Refika Aditama. 2011. Chalke, S. Tips Menjadi Orang Tua Arif, Positif, dan Inspiratif. Jogjakarta: Garailmu. 2009. Diposkan oleh Fatimatus Sholikah D. W. Di 08.04 Anugerah yang dikirimkan oleh Allah untuk orang tua saya adalah terlahirnya putri dari dua bersaudara yang disebut Fatimatus Sholikah Dwi Wahyuni. IAIN SURAKARTA ADS (Aktivis Dakwah Kampus), KAMMI AL-Aqsha IAIN SKA, KTI (Radio Komunitas Radio Indonesia), Radio Dista FM, BEM Institut IAIN SKA Tidak ada komentar: BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Pada bahasa anak-anak yang sedang mengalami masalah dalam belajar, hanya Saja masalah yang ada yang ringan dan tidak perlu perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang masalah belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatka perhatian dan bantuan dari orang lain. Anak luar biasa atau disebut sebagai anak berkebutuhan khusus (anak dengan kebutuhan khusus), memang tidak selalu mengalami masalah dalam belajar. Namun, saat mereka diinteraksikan bersama-sama dengan anak anak sebaya lainnya dalam sistem pendidikan reguler, ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan khusus dari guru dan sekolah untuk hasil belajar yang optimal. Belajar untuk anak berkebutuhan khusus (kebutuhan khusus) membutuhkan suatu strategi yang sesuai dengan kebutuhan masing masing. Dalam menyusun progam pembelajaran untuk setiap bidang studi sajanya guru kelas sudah memiliki data pribadi setiap peserta didiknya. Data pribadi yang berhubungan dengan karateristik spesifik, kemampuan dan kelemahanya, kompetensi yang dimiliki, dan tingkat perkembanganya. Karakteristik khusus siswa dengan kebutuhan khusus pada umumnya berhubungan dengan tingkat perkembangan fungsional. Karaktristik spesifik ini mencakup tingkat perkembangan sensori motor, kognitif, kemampuan berbicara, ketrampilan diri, konsep diri, kemampuan berinteraksi sosial dan kreativitasnya. Untuk mengetahui secara jelas tentang karakteristik dari setiap siswa seorang guru terlebih dahulu melakukan skrining atau asesmen agar bisa secara jelas mengenai kompetensi diri peserta didik bersangkutan. Tujuannya agar saat memprogamkan pembelajaran sudah dipikirkan mengenbai bentuk strategi pembelajaran yanag di anggap cocok. Asesmen di sini adalah proses kegiatan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan setiap peserta didik dalam bentuk perkembangan kognitif dan perkembangan sosial, melalui pengamatan yang sensitif. Kegiatan ini biasanya membutuhkan penggunaan alat khusus secara baku atau di buat sendiri oleh guru kelas. Model pembelajaran terhadap peserta didik berkebutuhan khusus yang di persiapkan oleh guru di sekolah, di tujukan agar peserta didik mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial. Pembelajaran ini disusun secara khusus melalui penggalian kemampuan diri peserta didik yang dibangun pada kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi ini terdiri atas empat ranah yang perlu diimbangi. 1 Dalam makalah ini akan membahas mengenai Strategi Pembelajaran untuk Anak Berkebutuhan Khusus 2. Rumusan Masalah Apakah definisi dari anak berkebutuhan khusus Bagaimana cara dan strategi anak berkebutuhan khusus 3. Tujuan Menjelaskan definisi dari anak berkebutuhan khusus. Mengidentifikasi jenis dan ciri anak berkebutuhan khusus. Menjelaskan Strategi pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus. B. PEMBAHASAN 1. Definisi Anak Berkebutuhan Khusus Anak berkebutuhan khusus (heward) adalah anak dengan ciri khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.2 Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan penyimpangan (Fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dengan anak-anak lain yang seusia sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus.3 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah istilah lain untuk menggantikan kata Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan Adanya kelainan khusus Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK membutuhkan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu komunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda. Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru antara lain4: a. Tunagrahita (Mental retardation) Ada beberapa definisi dari tunagrahita, antara lain: American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (hal 20) mendefinisikan retardasi mentaltunagrahita sebagai kelainan yang Rata - rata (sub - rata), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individu yang muncul sebelum usia 16 tahun dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Liga Jepang untuk Retardasi Mental (1992: hal.22) dalam B3PTKSM (halaman 20-22), mendefinisikan retardasi mentaltunagrahita adalah fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku dalam perilaku adaptif dan pada saat perkembangannya, yaitu Antara masa konsepsi sampai usia 18 tahun. The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped menyatakan tentang tunagrahita adalah seseorang yang disebutkan tunagrahita siap kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan sedang pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya. Definisi tunagrahita yang diterbitkan oleh American Association on Mental Retardation (AAMR). Di awal tahun 60 - an, tunagrahita pada pada fungsi adaptif. Bidang adaptif area. Komunikasi, merenungkan diri, kehidupan di rumah, raposial, bermasyarakat, mengendalikan diri, akademisi fungsional, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun. Menurut WHO seorang tunagrahita memiliki dua hal yang esensial yaitu sifatnya secara nyata di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat.5 Cara cara seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa tayangan sebagai berikut: penampilan Fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecilbesar, Tidak dapat menangani diri sendiri sesuai usia, Perkembangan bicarabahasa terlambat Tidak adakurang lagi perhatian terhadap lingkungan (pandangan kosong), Sering keluar ludah (cairan) dari mulut Ngiler). B. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder) Nilai standarnya 4 Tunalaras adalah individu yang memiliki hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukkan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Eli M. Bower (1981), anak dengan hambatan emosional atau kaelainan perilaku, halida: tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensori atau kesehatan. Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru. Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya. Secara umum hal ini selalu dalam keadaan merasuk dan tidak menggembirakan atau depresi. Bertendensi kea rah gejala fisik: merasa sakit atau suka berhubungan dengan orang atau masalah di sekolah. Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa sesuai dengan berikut ini: 6 Bersikap membangkang, Mudah terangsang emosinya, Sering melakukan tindakan aggresif, Sering bertindak melanggar norma socialnorma susilahukum. C. Tunarungu Wicara (gangguan komunikasi dan tuli) Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: 7 Gangguan pendengaran sangat ringan (27-40dB), Gangguan pendengaran ringan (41-55dB), Gangguan pendengaran sedang (56-70dB), Gangguan pendengaran berat (71-90dB), Gangguan pendengaran extremetuli Di atas 91dB). Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat. Untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional untuk isyarat bahasa yang berbeda-beda di setiap negara. Saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan bahasa bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu karena kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak. Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran8: Tidak mampu mendengar, Terlambat perkembangan bahasa, Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi, Kurangtidak tanggap bila diajak bicara, Ucapan kata tidak jelas, Kualitas suara anehmonoton, Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar, Banyak perhatian terhadap getaran, keluar Nanah dari kedua telinga, ada kelainan organis telinga. Nilai standarnya 7. d. Tunanetra (Sebagian serigala dan buta secara hukum) Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu: buta total (buta) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman amp Hallahan adalah individu yang memiliki penglihatan lemah penglihatan atau kurang dari 660 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran ditekan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan untuk taktual dan bersuara. Contohnya adalah penggunaan tulisan braille. Gambar timbul, benda model dan benda nyata. Sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas untuk mengetahui cara tunanetra mencari tempat dan arah serta cara menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium). Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan: 9 Tidak mampu melihat, Tidak mampu menimpa orang pada jarak 6 meter, Kerusakan nyata pada kedua bola mata, Sering meraba-rabatersandung waktu berjalan, Mengalami masalah mengambil benda kecil di dekatnya, Bagian bola mata yang hitam Keruhbesisikkering, Mata bergoyang terus. Nilai standarnya adalah 6, jika anak minimal 6 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra. E. Tunadaksa (cacat fisik) Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang parah bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy. Amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki kelengkapan dalam melakukan aktivitas fisik dan masih ada gangguan dalam latihan. Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuhgerak tubuh: 10 anggota gerak tubuh kakulemahlumpuh, kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lenturtidak terkendali), ada bagian anggota gerak yang tidak lengkaptidak sempurnalebih kecil dari biasa, ada cacat pada alat gerak, jari tangan kaku Dan tidak bisa menggenggam, Kesulitan pada saat berdiriberjalanduduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal, Hiperaktiftidak dapat tenang. Nilai standarnya 5. f. Tunaganda (Multiple handicapped) Menurut Johnston amp Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat. Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut: Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus. Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi. Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus. g. Kesulitan Belajar (Learning disabilities) Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung. berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi. brain injury. disfungsi minimal otak. dislexia. dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep. Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis dan berhitung11 : Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia) Perkembangan kemampuan membaca terlambat, Kemampuan memahami isi bacaan rendah, Kalau membaca sering banyak kesalahan Nilai standarnya 3. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia) Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai, Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya, Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca, Tulisannya banyak salahterbalikhuruf hilang, Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris. Nilai standarnya 4. Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkula) Sulit membedakan tanda-tanda: , -, x. gt, lt, Sulit mengoperasikan hitunganbilangan, Sering salah membilang dengan urut, Sering salah membedakan angka 9 dengan 6 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya, Sulit membedakan bangun-bangun geometri. Nilai standarnya 4. h. Anak Berbakat (Giftedness and special talents) Menurut Milgram, R. M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972). Anak berbakat mempunyai empat kategori, sebagai berikut: Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain. Dari keempat kategori di atas, maka anak berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, social, fisik (Freemen, J. 1975:120), akademik, psikomotor dan psikososial (Sisk,1987 dalam Amin, M. 1996:3). Berikut identifikasi anak berbakat atau anak yang memilki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa12 : Membaca pada usia lebih muda, Membaca lebih cepat dan lebih banyak, Memiliki perbendaharaan kata yang luas, Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa, Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri, Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal, Memberi jawaban-jawaban yang baik, Dapat memberikan banyak gagasan, Luwes dalam berpikir, Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan, Mempunyai pengamatan yang tajam, m. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati, Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri, Senang mencoba hal-hal baru, Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi, Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah, Cepat menangkap hubungan sebabakibat, Berperilaku terarah pada tujuan, Mempunyai daya imajinasi yang kuat, Mempunyai banyak kegemaran (hobi), w. Mempunyai daya ingat yang kuat, Tidak cepat puas dengan prestasinya, Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi), Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan. i. Anak Autistik Nilai standarnya 18. Autism Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Gejala-gejala autism menurut Delay amp Deinaker (1952) dan Marholin amp Philips (1976) antara lain: Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah. Selalu diam sepanjang waktu. Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton, kemudian dengan suara yang aneh akan menceritakan dirinya dengan beberapa kata kemudian diam menyendiri lagi. Tidak pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak menyenangi sekelilingnya. Tidak tampak ceria. Tidak peduli terhadap lingkungannya, kecuali terhadap benda yang disukainya. Secara umum anak autis mengalami kelainan dalam berbicara, kelainan fungsi saraf dan intelektual, Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya keganjilan perilaku dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Hyperactive bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala atau symptoms. (Batshaw amp Perret, 1986: 261).symptoms terjadi disebabkan oleh factor-faktor brain damage, an emotional disturbance, a hearing deficit or mental retardaction. Dewasa ini banyak kalangan medis masih menyebut anak hiperaktif dengan istilah attention deficit disorder (ADHD) (Solek, P. 2004:4) Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD ( Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders ), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain. Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah inklusi 13 adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck (1995 ) menyatakan bahwa: pendidikan inklusi 14 adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (ONeil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya. Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995) . Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru. Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus: Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran. antara lain: Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf. Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic. Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu. Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual. Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media. Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku. Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah : Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas. Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional. Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk. Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus. Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan Strategi kooperatif Strategi modifikasi tingkah laku 4. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut: Pendidikan integrasi (terpadu) Pendidikan segresi (terpisah) Penataan lingkungan belajar 5. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut Model biogenetic Model behavioraltingkah laku Model psikodinamika Model ekologis 6. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat kesalahan. Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak. 7. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka. Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD ( Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders ), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain. Share this:

Comments

Popular Posts